Kajian Islam

Khulu’ (gugat cerai)

Pengertian Gugat Cerai


Gugat cerai atau dalam bahasa Arabnya adalah al-Khulu’ ( الخُلْع). Kata ( الخُلْعُ) dengan didhommahkan huruf kho’nya dan disukunkan huruf lamnya berasal dari kata ( خُلْعُ الْثَوْبِ) yang bermakna melepas pakaian. Lalu digunakan untuk istilah wanita meminta kepada suaminya untuk melepasnya dari ikatan pernikahan yang dijelaskan Allah sebagai pakaian.
Allah berfirman:
“Mereka itu adalah pakaian, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.” (Qs. Al-Baqarah 2:187)

Sedangkan dalam pengertian syari’at, para ulama mengungkapkannya dalam banyak definisi yang semuanya kembali kepada pengertian bahwa al-Khulu’ adalah terjadinya perpisahan (perceraian) antara sepasang suami istri dengan keridhoan dari keduanya dan dengan bayaran yang diserahkan istri kepada suaminya.
Sedangkan Syeikh al-Basâm menyatakan bahwa al-Khulu’ adalah perceraian suami istri dengan bayaran yang diambil suami dari istrinya atau selainnya dengan lafadz yang khusus.

Wanitaboleh memohon fasakh (bubar perkahwinan) atau khulu’ (tebus talak) jika dia merasakan suaminya sudah tidak sesuai dengannya dan dia tidak mampu lagi menunaikan tanggungjawab sebagai isteri. Isteri Thabit bin Qais pernah datang kepada Rasulullah s.a.w dan mengadu:

Dari Ibnu Abbas r.a bahwa isteri Tsabit bin Qois mendatangi Nabi SAW dan berkata: ya Rasulullah, saya tidak mencela akhlak serta agama Tsabit bin Qois, akan tetapi saya hanya takut terjerumus dalam kekufuran pada agama ini, berkata Rasulullah SAW: “Apakah kamu bersedia untuk mengembalikan kebunnya?” dia menjawab: baiklah, berkata Rasulullah SAW (kepada Tsabit): “Terimalah olehmu kebun tersebut dan ceraikanlah dia dengan talak satu” (H.R Bukhori no. 5273).

Membenci kekufuran dalam Islam bermaksud pendurhakaan terhadap suami yang akhirnya menyerupai kaum yang tidak beriman. Ada juga para ulama yang menafsirkan maksudnya dia terdesak menjadi kufur karena ingin membebaskan diri dari suami, Kata al-Imam Ibn Qudamah al-Maqdisi (meninggal 620H.)

“Sesungguhnya wanita apabila membenci suaminya disebabkan akhlak atau rupa paras atau agama atau usianya yang tua atau lemah atau seumpamanya dan dia takut tidak dapat menunaikan perintah Allah dalam mentaati suami, maka harus baginya untuk khulu’ (tebus talak) dengan bayaran gantian untuk dirinya. Ini berdasarkan firman Allah: (maksudnya): “jika kamu takut keduanya (suami isteri) tidak dapat menegakkan aturan-aturan hukum Allah, maka tidaklah mereka berdosa – mengenai bayaran (tebus talak) yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya”. (Surah al-Baqarah:229) (Ibn Qudamah, al-Mughni, 10/267, Kaherah:Hijr).

Islam mengajarkan, jika istri minta cerai karena suami sering menzholimi istri atau tidak menunaikan kewajiban syar’i, seperti tidak mau mengerjakan sholat 5 waktu atau melanggar hukum Allah tanpa alasan yang benar, maka istri boleh minta cerai.

Penyebab khulu’

1- Diperbolehkan khulu’ ketika seorang wanita telah membenci suaminya, baik itu disebabkan oleh buruknya pergaulan dia, jeleknya akhlak atau pribadinya, ataupun karena takut terjerumus dalam dosa dengan meninggalkan haknya. Dianjurkan bagi suami untuk menerima khulu’ tersebut sebagaimana dia telah diperbolehkan.
2- Apabila seorang isteri membenci suami karena agamanya, seperti meninggalkan shalat, atau tidak memperdulikan kehormatan diri, jika tidak memungkinkan baginya untuk merubah, maka dia wajib untuk mencari jalan agar suami tersebut menceraikannya. Akan tetapi jika suaminya melakukan beberapa hal yang diharamkan, namun dia tidak memaksa isterinya untuk ikut melakukannya, dalam keadaan ini tidak wajib bagi isteri untuk meminta khulu’.
Allah berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaulah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak”.(An-Nisaa: 19)

– Khulu’ merupakan fash (perpisahan), baik itu dengan lafadz (khulu’, fash ataupun fida), jika terlaksana dengan lafadz talak ataupun kinayahnya dan dibarengi oleh niat, maka dia menjadi talak, akan tetapi suami tidak memiliki hak rujuk setelahnya. Boleh bagi suami untuk menikahinya kembali dengan akad dan mahar baru setelah selesainya iddah, akan tetapi dengan syarat belum dilalui oleh talak lain yang menggenapkannya menjadi tiga talak.
– Khulu’ diperbolehkan pada setiap saat, baik itu dalam keadaan suci ataupun haidh, wanita yang melakukan khulu’ beriddah satu kali haidh saja. Seorang suami boleh menikahi kembali yang di khulu’nya dengan syarat atas ridho wanita tersebut, dengan akad dan mahar baru setelah selesainya iddah.
– Segala sesuatu yang bisa dijadikan mahar, diapun boleh untuk dijadikan pengganti dalam khulu’, jika seorang isteri berkata: khulu’lah aku dengan uang seribu, kemudian suaminya menyetujui, maka suami tersebut berhak untuk mendapat uang seribu tersebut, dan tidak boleh baginya untuk meminta yang lebih besar dari apa yang telah istrinya berikan.

Dari Pengadilan Agama:

Jika seorang suami dengan sengaja menelantarkan dan menzhalimi istri dan anaknya dengan tidak memberikan nafkah, maka itu adalah kesalahan dan dia berdosa karena telah melalaikan kewajibannya sebagai seorang suami dan ayah bagi anak-anaknya. Jika nafkah tersebut tidak dapat dipenuhi atau diberikan oleh suami maka istri dapat menuntutnya dengan mengajukan gugatan ke Pengadilan Agama.

Gugatan ini dapat berakibat kepada perceraian yang disebut dengan tafriq qadha’i (perceraian melalui Pengadilan Agama), sebagaimana tertuang dalam shighat ta’liq yang diikrarkan oleh suami saat setelah akad nikah berlangsung. Di antara poin-poinnya adalah sebagai berikut:

a. Meninggalkan istri selama dua tahun berturut-turut.
b. Atau tidak memberi nafkah wajib kepadanya selama tiga bulan lamanya.
c. Atau menyakiti badan/jasmani istri.
d. Atau membiarkan (tidak memedulikan) istri selama enam bulan.

Jika suami melakukan salah satu dari keempat poin tersebut dan istri tidak ridha, maka istri dapat mengadukannya kepada Pengadilan Agama atau petugas yang diberikan hak mengurus pengaduan itu. Pengaduannya bisa dibenarkan serta diterima oleh pengadilan atau petugas tersebut dan istri membayar uang pengganti atau ‘iwadh kepada suami. Jika proses ini berjalan dengan baik maka jatuh talak satu kepadanya.

(dari berbagai sumber)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s